Thursday, March 26, 2020

Cerpen Haruki Murakami: Julio Iglesias

  • Oleh Haruki Murakami

Setelah ia mencuri dupa pengusir nyamuk kami, kami tidak lagi memiliki apapun untuk melindungi diri dari serangan kura-kura laut.Kami mencoba memesan dupa lewat perusahaan dengan layanan pengiriman; tetapi, seperti yang kami duga, saluran telepon telah terputus, dan sejak beberapa minggu lalu sura-surat tak pernah lagi datang. Kalau dipikir-pikir, tidak mungkin kura-kura cerdik itu akan melewatkan ini--sejauh ini, kami dapat mencegahnya hanya karena dupa. Namun, sekarang ia pasti tidur siang dengan tenang di dasar laut biru sebagai persiapan untuk serangan malam ini.
"Beginilah akhir kita," kata sang wanita. "Ketika malam tiba, kita berdua akan dimakan."
"Kita tidak boleh kehilangan harapan," kataku. "Kita hanya perlu membuat rencana."
"Tapi kura-kura laut mencuri setiap batang dupa kita."
"Kita harus mencoba berpikir logis. Jika kura-kura sebegitu bencinya pada penolak nyamuk, pasti ada lagi hal lain yang sangat ia benci."
"Misalnya?"
“Julio Iglesias," kataku.
"Kenapa Julio Iglesias?" tanyanya.
"Entahlah, itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Seperti firasat, atau semacamnya."
Mengikuti intuisiku, kupasang "Begin the Beguine"-nya Julio Iglesias ke pemutar piringan hitam dan menunggu malam tiba. Ketika gelap tiba, kura-kura laut akan menyerang, dan pertarungan terakhir akan dimulai. Apakah kami akan dimakan, atau apakah kura-kura akan kelaparan?

Ketika aku mendengar langkah kaki yang basah dan licin di dekat pintu sesaat setelah tengah malam, segera kujatuhkan lengan jarum ke atas piringan hitam. Ketika Julio Iglesias mulai menyanyikan "Begin the Beguine" dengan suara manisnya, langkah kaki terhenti, dan kami mendengar kura-kura menjerit kesakitan. Kami menang.

Malam itu, Julio Iglesias menyanyikan "Begin the Beguine" seratus dua puluh enam kali. Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu suka Julio Iglesias, tetapi untungnya tidak sebenci kura-kura laut.


(Saya terjemahkan dari terjemahan versi Inggris oleh Kathryn Hemmann)

Thursday, February 14, 2019

Cerpen Haruki Murakami: Pelancong Berusia 32 Tahun

32-Year-Old Day Tripper

Aku berusia 32 tahun sedangkan dia 18... Jika kau berpikiran seperti itu maka akan terkesan konyol.
Aku baru berusia 32 tahun, sementara dia sudah 18... Mungkin begitu lebih baik.
Kami berteman, tidak lebih, tidak kurang. Aku sudah beristri, dan dia memiliki enam orang pacar. Di hari-hari kerja, dia pergi kencan dengan enam pacarnya, dan sekali dalam sebulan, pada hari Minggu, dia berkencan denganku. Di hari-hari Minggu yang lain, dia duduk-duduk di rumah sambil menonton TV. Ketika dia menonton TV, wajahnya imut seperti anjing laut.
Pada tahun 1963, saat dia dilahirkan, Presiden Kennedy dibunuh. Juga, di tahun itu, aku mengajak kencan seorang gadis untuk pertama kali. Mungkinkah lagu yang sangat populer ketika itu "Summer Holiday"-nya Cliff Richard?
Ah, teserah.

Thursday, June 14, 2018

Merindukan Musim Hujan di Kampung Halaman

Aku merindukan genangan air di lubang-lubang jalan aspal kampungku
Merindukan titian yang dibangun mendadak karena halaman yang calap
Merindukan sisa tetes-tetes air di batang purun
Merindukan aku kecil yang mandi di bawah talang hujan, air deras itu memukul-mukul bahuku, juga kemaluanku
Merindukan aroma aspal yang basah
Merindukan orang-orang sepulang dari kota terpaksa memarkir motor di depan rumah kami dan numpang berteduh di emperan
Merindukan Ibu yang bergegas memetik jemuran, yang belum kering betul, saat langit mendung menggantung
Merindukan gumam a'udzubillah-nya kala kilat menyambar
Merindukan pisang gorengnya yang tak pernah alpa saat hujan deras turun
Merindukan lingkaran-lingkaran kecil yang membesar dan terus bermunculan di permukaan sungai kecil depan rumah
Merindukan sahut-sahutan katak sejak pagi-pagi buta hingga waktu sarapan tiba
Merindukan teman-teman kecilku yang datang ke sekolah dengan payung dan jaket kesayangan
Aku merindukan, surga kecil di masa lalu, masa yang jauh, rindu yang panjang


Penjaringan, 15 Juni 2018

Saturday, May 12, 2018

Cara Membuat Waktu Berhenti

Pertama-tama, peluk punggungnya
Kedua, pastikan tanganmu yang lain tidak akan pegal
Ketiga, biarkan dia memelukmu
Keempat, tutuplah kelopak matamu
Kelima, sesuaikan irama napasmu dengan napasnya

Wednesday, September 6, 2017

0% (2)

Berapa persenkah cintamu padaku hari ini?
Kakak layak diperhitungkan, tapi mencintai, butuh waktu bukan? Anggaplah 30%, Kakak.

Berapa persenkah cintamu padaku hari ini?
Kakak tak perlu menungguku, aku belum punya cinta yang siap, sedangkan cinta Kakak telah begitu siap bukan? Anggaplah 40%, Kakak.

Berapa persenkah cintamu padaku hari ini?
Janganlah bertanya setiap hari, Kakak. Bukan hal mudah menjawabnya setiap hari bukan? Anggaplah 45%, Kakak.

Berapa persenkah cintamu padaku hari ini?
Perkenalan kita terlalu singkat. Aku belum lama mengenal Kakak, begitupun Kakak, tak mengenalku dengan baik. Cinta harus saling mengenal dulu bukan? Anggaplah 50%, Kakak.

Berapa persenkah cintamu padaku hari ini?
Telah kucoba membuka hatiku, Kakak. Namun seperti ada tempurung keras di sana, dan aku tak tahu cara memecahkannya. Tentu waktu yang lebih mengerti bukan? Anggaplah 60%, Kakak.

Berapa persenkah cintamu padaku hari ini?
Aku hanya bisa mengatakan maaf dan maaf, Kakak. Semua usahaku untuk mencoba tidak berhasil. Barangkali Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk Kakak, juga diriku. Sementara takdir punya jalannya sendiri bukan? Maaf, anggaplah 0%, Kakak.

7.9.17, Pluit Dalam, Jakarta Utara

Thursday, August 24, 2017

Norwegian Wood dan Bagaimana Kenangan Bekerja

Sudah dua hari yang lalu menyelesaikan baca Norwegian Wood-nya Haruki Murakami, tapi sampai sekarang rasanya masih berada dalam suasana novel itu. Begitu menamatkannya, aku mencoba membaca novel lain, tapi tidak bisa. Aku seperti tidak bisa move on.
Norwegian Wood yang kupunya itu adalah cetakan pertama, dengan cover putih berlubang yang memperlihatkan warna merah di baliknya, sehingga terlihat seperti bendera Jepang, serta dengan ukuran buku masih kecil, namun tebal, dan dengan kertas hvs.
Aku membelinya di toko buku bekas yang tidak sengaja kutemukan ketika pada suatu malam jalan-jalan ke Pasar Grogol. Niatnya mau beli ketel listrik, tapi karena sudah malam, maka hampir semua toko barang elektronik di pasar itu tidak ada yang buka, kecuali satu, dan itu pun tidak menjual ketel listrik. Lalu, tersembunyi di balik toko buah, dari seberang jalan kulihat sesuatu yang berjajar di rak, tampak seperti buku-buku. Begitu aku mendekat, ternyata benar. Aneh sekali, ironis rasanya, di tengah pasar seperti ini, ada toko yang di dalamnya berjajar buku-buku hingga menutupi seluruh dinding, serta sebuah rak buku besar di tengahnya. Dari penampilannya, serta dari buku-buku yang sekilas kulihat di sana, aku menduga itu tempat penyewaan buku. Seorang ibu-ibu yang tampaknya berdarah chinese, menjaga toko itu.
"Ini buku-bukunya dijual atau disewakan?" tanyaku pada ibu itu.
"Dijual mas."
Aku pun masuk, dan mataku merambati semua deretan buku itu. Semua buku-buku itu sudah disampul, dan jelas sekali semuanya buku original. Banyak sekali buku --yang menurutku--bagus, sebagian aku juga sudah punya. Kepada si ibu pemilik toko aku mengkonfirmasi dugaanku bahwa tempat ini dulunya adalah rental buku. Si ibu membenarkan, juga menjelaskan bahwa usaha rental buku sekarang tidak mungkin lagi bisa laku.
Buku pertama yang kuambil dan kutanyakan harganya adalah Memoirs of a Geisha. Karena letaknya agak tinggi, si Ibu mengambilkannya dengan menaiki kursi plastik. Buku itu ia bawa ke atas meja. Mengelap debu-debunya dengan kain. Membaca sinopsis di belakangnya. Membaca sebagian isinya. Lalu menimbang-nimbangnya.
"Yah.. Tiga puluh lah...," kata ibu itu akhirnya setelah kutunggu dengan sabar.
Aku tersenyum senang. Dan segera memilih-milih buku lain lagi.
Setiap aku menanyakan harga suatu buku, si ibu selalu melakukan ritual yang sama: mengelap debu-debunya, membaca sinopsis di cover belakang, membaca sebagian isinya, lalu menimbang-nimbang harga yang pantas, diiringi dengan pujian atas kelebihan buku tersebut.
Buku-buku yang kupilih adalah Catatan Seorang Demonstran edisi pertama, Bumi Manusia terbitan Hasta Mitra, Norwegian Wood terbitan pertama, Namesake, Interpreter of Maladise, Bochan, dan komik One Piece. Sejak aku memilih Catatan Seorang Demonstran dan buku Pram, si ibu langsung sadar bahwa aku adalah seorang pecinta buku yang rela membayar mahal demi buku yang diinginkan. Maka harga-harga yang diberikan si ibu tidak lagi semurah yang kuharapkan seperti pada kasus Memoirs of a Geisha. Pada akhirnya, karena keterbatasan uang yang kubawa, hanya Norwegian Wood, Catatan Seorang Demonstran, dan Memoirs of Geisha yang kubawa pulang, dengan niat akan kembali lagi ke sana untuk membeli Bumi Manusia terbitan Hasta Mitra yang hanya dijual 50 ribu oleh ibu itu, serta buku lainnya. (Ketika beberapa minggu kemudian aku kembali ke toko itu, ternyata Bumi Manusia, yang edisi langka itu, yang hanya 50 ribu itu, sudah terjual) 😭

***

Norwegian Wood bercerita tentang tokoh aku bernama Watanabe, serta hubungan asmaranya dengan dua gadis yang sangat berbeda, Naoko dan Midori. Sosok Naoko adalah sosok yang, menurutku, puitis. Cinta dengan Naoko adalah cinta yang puitis. Sementara Midori adalah gadis yang spontan, blak-blakan, dan, menurutku, menyenangkan.
Murakami menulis dengan banyak memanfaatkan metafora, jernih, detail, indah, serta dalam. Dan sebagaimana khas Murakami, di novel ini banyak adegan erotis, yang ditulis dengan vulgar, namun tetap indah. 😁
Judul Norwegian Wood sendiri diambil dari judul salah satu lagu The Beatles yang mana merupakan lagu kesukaan Naoko. Naoko rela memberikan uang jika Reiko-san, temannya satu kamar, mau menyanyikan lagu itu.

***

Aku menghabiskan Norwegian Wood cukup lama, entah berapa minggu. Sebagian besar kubaca dalam busway (transjakarta). Membaca dalam busway menurutku sangat nyaman (kecuali kalau berdiri menggantung karena kehabisa kursi). AC-nya yang dingin (jauh berbeda dengan kostku yang pengap), suasananya yang biasanya selalu tenang (karena penumpang busway cenderung orang yang tidak saling kenal, dan mereka biasanya hanya bercengkrama dengan hp masing-masing), bunyi mesin bis yang bagiku cukup menenangkan, seringkali juga terdengar radio yang melantunkan lagu-lagu yang enak, juga goyangan-goyangan dalam bis yang melenakan (seolah-olah kita duduk di ayunan).
Sebagian juga kubaca di toilet saat sedang BAB, yang kulama-lamakan agar bacanya tidak nanggung. (Aku sudah pernah bercerita bahwa aku punya kebiasaan BAB sambil baca buku, dan kebiasaan itu masih berlanjut hingga sekarang).
Sebagian lagi kubaca di emperan masjid samping rumah sakit tempatku bekerja sambil menunggu adzan zuhur (kalau aku dinas siang, jadi usai shalat zuhur langsung ke rumah sakit), atau adzan ashar (kalau dinas pagi, jadi pulang kerja, yang biasanya hampir pukul 3 sore, langsung ke masjid untuk shalat zuhur, lalu duduk menunggu adzan ashar).
Namun, di manapun itu, setiap aku membaca novel ini, entah mengapa selalu saja aku teringat kamu.
Aneh juga, padahal tidak ada satupun yang menghubungkan kita dengan novel ini. Kita tidak punya suatu momen yang berhubungan dengan novel ini. Bahkan kamu pastilah belum membaca novel ini, mungkin tahu pun tidak. Cerita dalam novel ini juga tidak ada yang mirip dengan cerita kita (kalaupun kita memang punya cerita). Tokoh-tokoh wanita di dalamnya juga tidak ada yang mirip dengan karaktermu. Jadi entahlah. Barangkali memang begitu kerja kenangan. Datang begitu saja, melalui sesuatu yang bahkan tidak ada sangkut pautnya.
Mungkin hal ini pula, bahwa 'setiap kali aku membacanya aku selalu teringat kamu' ini, yang membuatku belum bisa membaca novel lain. Walau telah berusaha sekuat tenaga melupakanmu, nyatanya, pada bagian terdalam diriku, aku ingin selalu mengingatmu.

Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, 24 Agustus 2017

Saturday, August 5, 2017

0%

Aku memilih pergi
Mendikte waktuku sendiri
Menyusun jalanku sendiri
Melupakan barangkali adalah kota
Rute berikutnya dalam petaku
Meski kompasku selalu terbelok oleh matamu
Sepasang padang rumput
Tempat angin menyelusup

Tapi aku memilih pergi
Menggambar warna langitku sendiri
Membaui peluhku sendiri
Dalam ingatan mungkin ada tempat sembunyi
Ruang semua bayang
Yang menyimpan aroma parfummu
Juga lentik jarimu

Dan aku memilih pergi
Dengan nelangsa
Karena aku tahu di sana memang tidak ada diriku