Aku tidak jadi pergi ke New York karena tak ingin
memotong rambutku. Ayahku pun tak pernah membaca “Surat untuk Ayahku” yang
kutulis.
“Akan kubaca nanti, saat aku ingin menangis,” katanya.
“Tapi, entahlah, aku tak pernah ingin menangis.”
Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku memang tak pernah
tahu bagaimana menjawab sesuatu. Itulah sebabnya aku menulis; itulah sebabnya
aku terus menulis. Kutuliskan jawaban-jawaban yang tak sempat terpikirkan
ketika segala sesuatunya terjadi. Atau, lebih tepatnya, draf dari
jawaban-jawaban itu.
Misalnya, ketika pertama kali mencoba menulis cerita ini,
kuhapus dirimu. Kupikir aku bisa menyamarkan ketidakhadiranmu, seolah-olah pada
hari pertunjukan itu kau hanya tak muncul, dan kami, para pemain yang lain,
terpaksa mengarang adegan-adegan baru pada saat-saat terakhir.
Baru sekarang aku menyadari bahwa kisah ini bermula
darimu. Sebab, betapapun aku ingin mengelak, betapapun aku berusaha untuk tak
mengakuinya, kisah ini, pada akhirnya dan dalam segala maknanya, adalah sebuah kisah cinta.
***
Sepekan sebelumnya, segalanya masih berjalan sebagaimana
mestinya. Barangkali keliru jika kukatakan semuanya baik-baik saja, sebab pada
masa itu tak ada yang benar-benar baik-baik saja. Namun, ada kalanya hidup yang
biasa-biasa saja terasa cukup, bahkan sesekali menghadiahkan hari-hari yang
membahagiakan. Aku dan ayahku di dalam mobil, jendela-jendela terbuka,
mendengarkan berita: mungkin kami tampak seperti dua orang sahabat, atau dua
bersaudara yang sedang berangkat kerja, masing-masing merasa senang karena ada
seseorang di sisinya yang membuat perjalanan terasa lebih ringan lewat
percakapan-percakapan kecil.
“Kau seharusnya belajar menyetir,” kata ayahku pagi itu,
ketika kami berhenti di lampu merah.
Aku sudah mendengar kalimat yang sama sejak berusia empat
belas tahun, atau mungkin lebih lama lagi, sejak umur dua belas. Kini, di usia
dua puluh, aku mulai berpikir bahwa, ya, mungkin memang sudah saatnya aku
belajar menyetir. Setidaknya, demi memelihara fantasi konyol yang menyenangkan
tentang melarikan diri dengan kecepatan tinggi di jalan raya, setelah mencuri
segala sesuatu yang dimiliki orang tuaku, dimulai dari mobil. Namun, ada
sesuatu yang juga kusukai dari ketidakmampuanku menyetir: gagasan bahwa aku tak
akan pernah mempelajarinya.
“Aku bisa belajar, sih,” jawabku.
“Mau Ayah ajari?” tanyanya penuh semangat. “Besok? Atau
hari Minggu?”
“Besok saja. Bagus.”
Kantor ayahku berada di pusat kota, tetapi ia rela
memutar beberapa blok untuk menurunkanku di dekat konsulat Amerika Serikat,
tempat aku mendapat jadwal wawancara visa. Aku sudah bersiap menghadapi
birokrasi yang seolah tak berujung, tetapi urusanku selesai hanya dalam satu
jam. Bahkan, aku masih sempat menghadiri kelasnya Schuster. Aku hanya terlambat
sedikit, dan itu bukan masalah, sebab profesor kami itu membenci segala macam
formalitas. Kami bisa keluar-masuk ruang kuliah tanpa perlu mengemukakan
alasan, seolah-olah perkuliahan berlangsung di tengah jalan dan kami hanyalah
orang-orang yang kebetulan berhenti sejenak untuk mendengarkan seorang
pengkhotbah atau pedagang kaki lima.
Seperti biasa, aku menyelinap ke bangku paling belakang,
lalu mengeluarkan lembaran-lembaran fotokopi puisi César Vallejo dan buku
catatan raksasa tempat aku biasa mencoretkan frasa-frasa yang melintas begitu
saja di kepala. Aku tak pernah repot-repot berusaha mencatat materi kuliah
dengan sungguh-sungguh. Bahkan mahasiswa yang paling tekun sekalipun tak
sanggup menangkap monolog-monolog Guillermo Schuster yang terkadang cemerlang,
tetapi selalu membingungkan itu.
Aku ingat Schuster sedang berada di tengah-tengah
pidatonya yang berapi-api. Sebatang Gitanes tergenggam di tangan kanannya,
sementara tangan kirinya memegang cangkir kopi—meski, jika hendak disebut
dengan tepat, benda itu bukanlah cangkir, melainkan tutup termosnya. Setiap
tegukan seolah menandai satu tahap dalam crescendo sang profesor: penampilannya
bermula dari pengamatan-pengamatan umum yang disampaikan dengan ragu-ragu,
tetapi masuk akal, sebelum kemudian menyimpang ke dalam berbagai uraian panjang
yang cerewet, melebar ke segala arah, lalu tercerai-berai tanpa tujuan yang
jelas.
Beredar kabar bahwa termos yang diminum Schuster dengan
begitu teratur selama perkuliahan itu berisi kopi yang dicampur wiski atau
pisco, bahkan mungkin vodka Polandia yang istimewa, diminum tanpa campuran apa
pun. Sebab, tentu saja, mencampurkan vodka semacam itu dengan kopi akan
dianggap sebagai dosa.
“Bisa tolong matikan rokok Anda, Profesor?” kata seorang
mahasiswa yang tak kukenal pagi itu: kau.
“Kenapa?” tanya Schuster, sungguh-sungguh terkejut,
seolah baru saja mendengar sesuatu yang sama sekali tak masuk akal.
“Aku sedang hamil,” jawabmu.
Kini, sulit rasanya menjelaskan bahwa pada masa itu
merokok di dalam ruang kuliah bukan hanya diperbolehkan, melainkan juga
dianggap sebagai sesuatu yang sepenuhnya wajar, nyaris masuk akal. Terkadang,
bahkan di tengah musim dingin, ketika semua jendela tertutup rapat, ada lima
batang rokok atau lebih yang menyala secara bersamaan. Jika melihatnya dalam
sebuah film, orang mungkin akan menganggapnya berlebihan, trik murahan, semacam
parodi yang terlalu dibuat-buat.
Kukira Schuster akan menanggapinya dengan penghinaan yang
tak berkesudahan, lalu melontarkan sarkasme seperti biasa. Namun, ia justru
memberimu senyum penuh rasa ingin tahu, yang bertahan selama dua atau tiga
detik, sebelum akhirnya mengempaskan rokoknya ke lantai dan mematikannya.
Asisten dosen yang mengamati perkuliahan dengan sikap seorang penggemar—dan
yang sering menyalakan rokok bertepatan dengan Schuster, seolah-olah mereka
tergabung dalam satu tim perokok elite—terpaksa melakukan hal yang sama. Aku
sendiri harus berjuang menahan keinginan untuk menyulut sebatang rokok.
Seusai kelas, profesor dan asistennya bergegas menuju
tempat parkir. Aku berjalan bersama mereka agar bisa bercerita tentang
perjalananku ke New York yang sudah dekat.
“Tidak masalah soal kehadiran. Santai saja.” Schuster
mengusap dagunya, seolah sedang membelai janggut tebal yang sebenarnya tak ada.
“Tapi kota itu tak pernah berhasil meyakinkanku. Aku tidak suka New York.”
“Kenapa?”
“Terlalu dibesar-besarkan,” jawabnya dengan nada seorang
intelektual skeptis yang sudah menjadi ciri khasnya. “Salah satu anakku pernah
tinggal di sana selama tiga tahun, di Brooklyn.”
“Kota yang mengerikan, New York,” sahut asistennya.
“Benar-benar buruk.”
Salah satu anakku, gumamku dalam hati, sedikit
takjub mengetahui bahwa Schuster punya lebih dari seorang anak. Aku bisa
membayangkannya menjadi ayah seseorang. Hampir semua orang dewasa yang kukenal
memiliki setidaknya satu anak, tetapi membayangkan Schuster telah menghasilkan—itulah
kata yang terlintas di benakku saat itu—dua manusia atau lebih terasa ganjil,
bahkan sedikit mencemaskan.
Aku berpamitan kepada mereka. Baru saja hendak menyalakan
rokok yang sejak tadi tertunda, kulihat kau berjalan menghampiriku.
“Masih punya rokok?”
“Kukira kau hamil.”
“Ada kok orang hamil yang merokok,” katamu. “Tidak,
sebenarnya aku baru saja kehilangan bayiku. Barusan, di kamar mandi. Mengerikan
sekali.”
Kau tersenyum kepadaku, lalu menyalakan rokok yang
kusodorkan.
“Kalau begitu, kenapa tadi kau menyuruhnya mematikan
rokok?”
“Cuma ingin mengusiknya. Dia kebanyakan bicara,” katamu.
Lalu kau menambahkan, seolah ada sesuatu yang perlu diluruskan, “Aku belum
pernah hamil.”
“Kau suka kelas tadi?”
“Ya. Aku suka puisi-puisi yang dibahas. Vallejo hebat
sekali. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan profesor itu, tapi
aku menyukainya. Apa semua kelasnya memang seperti itu?”
“Ya. Schuster memang agak gila.”
Seharusnya aku menghadiri kelas Pengantar Metodologi
Penelitian, tetapi entah bagaimana aku malah memutuskan untuk terus berjalan
bersamamu, tanpa tujuan yang jelas. Kau bercerita bahwa kau sedang
mempertimbangkan untuk mengambil jurusan sastra dan bahwa kedatanganmu ke kelas
Schuster semata-mata didorong oleh rasa ingin tahu.
“Aku tidak pernah ingin mempelajari apa pun,” katamu.
“Dan sampai sekarang pun aku belum tahu apakah aku sungguh-sungguh
menginginkannya.”
Usiamu dua puluh tahun, sama sepertiku, tetapi ada
sesuatu dalam caramu bicara yang membuatmu terdengar jauh lebih dewasa. Atau,
barangkali, bukan dewasa yang kumaksud. Kau terasa seperti kehadiran seseorang
dari zaman yang lampau, tua sekaligus agung, seolah-olah telah hidup jauh
sebelum kami semua dilahirkan. Saat itulah aku benar-benar memandangmu untuk
pertama kalinya. Baru kusadari matamu begitu besar, hampir tak sebanding dengan
wajahmu. Rambutmu agak panjang, tetapi masih lebih pendek daripada rambutku,
yang jatuh sampai ke bahu. Bahumu pun setinggi bahuku, meski entah mengapa kau termasuk
orang-orang yang selalu tampak tinggi meskipun sebenarnya tidak.
Kami berjalan menuju Plaza Ñuñoa. Aku berusaha mengisi
keheningan di antara kami, sebab saat itu aku belum tahu bahwa diam pun bisa
dibagikan kepada seseorang; bahwa ada kalanya keheningan bukan sesuatu yang
harus diatasi, melainkan sesuatu yang justru perlu dibiarkan tinggal di antara
dua orang.
Aku bercerita tentang rencanaku pergi ke New York. Aku
berusaha terdengar santai, seolah-olah dunia bukan sesuatu yang asing bagiku,
tetapi aku yakin yang terdengar justru kesombongan. Seharusnya aku berlatih
terlebih dahulu di depan cermin.
Kau rupanya sudah pernah ke New York, menjelajahi
sebagian besar Eropa, dan mengunjungi Buenos Aires entah berapa kali—kota yang
paling kau cintai di seluruh dunia. Namun, kau tidak menceritakan semua itu
kepadaku saat itu. Kau hanya mengatakan bahwa kau pernah ke New York.
“Apa yang paling kau sukai dari New York?”
“Beberapa lukisan Paul Klee. Di Met. Itu yang paling
kusukai. Bukan sekadar karena aku menyukainya. Lukisan-lukisan itu membuatku
bahagia.”
Kau berbicara dengan kalimat-kalimat pendek, menyisakan
jeda panjang di antara kata-kata. Kau bicara seperti tokoh utama dalam film
yang lambat dan indah. Sementara aku terdengar seperti seorang aktor komedi
yang baru saja mendapat peran serius pertamanya, lalu berusaha mati-matian
membuktikan kepada dunia bahwa ia mampu memainkan peran apa pun. Namun, semakin
keras ia berusaha, semakin menyedihkan pula penampilannya, sebab usahanya
begitu kentara.
Kami memasuki toko buku Mad Toy. Aku biasa datang ke sana
setiap hari, menghabiskan waktu berjam-jam, terkadang sepanjang sore,
berbincang dengan salah satu dari tiga pemiliknya, terutama Miguel. Aku
menganggapnya nyaris sebagai sahabat terbaikku, meskipun aku juga senang
mengobrol dengan Chino dan Denise.
Ketiganya pernah belajar sastra di universitas yang sama
denganku. Usia mereka bahkan belum tiga puluh tahun, tetapi mereka sudah
berhasil mendirikan toko buku mungil yang luar biasa. Toko itu begitu istimewa
hingga, barangkali justru karena keistimewaannya, ia sedang meluncur tanpa daya
menuju kehancuran.
Mereka tidak menjual buku-buku buruk, atau setidaknya
berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya. Etalase dan meja pajangan mereka
ditata berdasarkan suatu gagasan tentang sastra yang mereka yakini bersama,
sebuah keyakinan yang membuat mereka bangga. Jika seseorang datang mencari buku
dari pengarang yang mereka anggap medioker atau komersial—dua istilah yang,
bagi mereka, sesungguhnya berarti hal yang sama—Chino atau Denise akan turun ke
gudang untuk mengambilnya, lalu menjualnya dengan enggan.
Miguel tidak demikian. Dalam situasi seperti itu, ia akan
membelalakkan mata hijaunya secara berlebihan, nyaris tak sanggup
menyembunyikan kepuasan karena bisa mengucapkan kalimat yang sudah menjadi
semacam semboyannya.
“Kami tidak menjual buku-buku semacam itu di sini.”
Kau dan aku berkeliling melihat-lihat pajangan dan
rak-rak buku Mad Toy. Selama tiga puluh atau empat puluh menit, hidup seolah
tak memiliki urusan lain selain saling merekomendasikan buku dengan penuh
semangat, merasa gembira ketika mendapati selera kami bertemu, dan diam-diam
mengarang sebuah masa depan: bahwa suatu hari nanti kami akan membaca semua
buku itu bersama-sama.
“Aku tinggal dekat sekali dari sini,” katamu tiba-tiba.
“Aku ingin mengundangmu ke rumah untuk menonton film, tapi sekarang aku harus
pergi. Aku harus mengajak anjingku jalan-jalan.”
Kau membayar buku Olga Orozco yang sejak tadi kaubaca
sekilas, lalu bergegas pergi. Sesaat saja, aku membiarkan diriku percaya pada
semacam takdir buruk: bahwa aku tak akan pernah melihatmu lagi.
“Dia sering datang ke sini,” kata Miguel kemudian.
“Biasanya sekitar tengah hari, kadang lebih pagi, sekitar pukul sebelas. Dia
bisa berlama-lama melihat buku. Kadang membeli dua atau tiga, kadang hanya
mencatat sesuatu di buku kecil merahnya, lalu pergi begitu saja tanpa membeli
apa pun.”
“Biasanya dia membeli apa? Puisi saja?”
“Puisi dan esai. Filsafat juga. Tapi kadang-kadang novel.
Kau suka dia? Kau naksir?”
Aku mendadak gugup. Pertanyaan itu begitu terus terang
dan menyindir, tetapi ada sesuatu yang terasa kejam di dalamnya, seolah-olah
Miguel baru saja membuka sebuah rahasia yang bahkan belum sempat kuakui kepada
diriku sendiri.
“Dia berbeda.”
“Berbeda dari siapa?”
“Entahlah. Dari semua orang, mungkin.”
Sahabatku tersenyum. Aku merasa seperti seseorang yang
baru saja ditelanjangi, kehilangan segala perlindungan, tak punya tempat untuk
menyembunyikan diri. Aku ingin segera meninggalkan toko buku itu, tetapi Miguel
keluar untuk membeli beberapa gelas kopi dari Las Lanzas. Aku menyukai
saat-saat langka ketika aku dipercaya menjaga toko sendirian. Bahkan, ada
rencana bahwa suatu hari nanti aku akan bekerja di sana, jika saja penjualannya
membaik. Kami meminum kopi. Aku berusaha membantu Miguel mengutak-atik lembar
kerja Microsoft Excel yang terus menyulitkannya. Setelah itu, aku duduk di
sebuah sudut dan membolak-balik beberapa antologi puisi. Tak satu pun memuat
puisi Olga Orozco.
Menjelang sore, Álvaro Rudolphy, aktor televisi yang
begitu populer, melangkah masuk dengan kepercayaan diri seseorang yang terbiasa
disambut dan dikenali di mana-mana. Ia melemparkan senyum yang pantas menghiasi
layar televisi kepada Miguel, lalu berkata dengan gaya sok akrab yang nyaris
sempurna,
“Hei, Kawan, rekomendasikan sebuah buku untukku.”
“Aku tidak bisa. Aku tidak mengenalmu,” jawab Miguel
seketika, datar. “Bagaimana mungkin aku merekomendasikan buku untukmu kalau aku
bahkan tidak mengenalmu?”
Rudolphy pergi dengan wajah kikuk, bahkan tampak terhina.
Kami menutup toko sambil tergelak-gelak.
“Ayo makan di Dante,” kata Miguel.
“Bagaimana mungkin aku makan bersamamu kalau aku bahkan
tidak mengenalmu?” balasku.
Kami makan roti lapis chacarero dan minum beberapa
gelas bir, berusaha memperpanjang kegembiraan yang ditimbulkan oleh kalimat
baru itu. Sebuah kalimat yang seolah-olah bisa digunakan untuk segala hal, yang
mampu menyelesaikan setiap persoalan hanya dengan mengucapkannya.
Bagaimana mungkin aku berbagi kentang goreng denganmu
kalau aku bahkan tidak mengenalmu?
Bagaimana mungkin aku menyodorkan mustard kepadamu kalau
aku bahkan tidak mengenalmu?
Bagaimana mungkin aku membiarkanmu membayar tagihan kalau
aku bahkan tidak mengenalmu?
Bukan berarti kami tidak menyukai Rudolphy. Sama sekali
bukan begitu. Kami justru menganggapnya aktor yang cukup bagus. Namun, bayangan
wajahnya yang terperangah itu, entah mengapa, terasa seperti kemenangan kecil
yang ganjil.
Miguel pulang. Aku sendiri duduk hampir satu jam di
sebuah bangku di Plaza Ñuñoa, berjaga-jaga kalau-kalau kau muncul sambil
mengajak anjingmu berjalan-jalan.
Sulit bagiku menerima bahwa sudah waktunya untuk pergi.
Menjelang tengah malam, aku naik bus dan tertidur
sepanjang perjalanan pulang, kepalaku sesekali membentur kaca jendela.
***
Keesokan harinya, aku terbangun oleh deru juicer yang
mengerikan. Sayangnya, itu salah satu kebiasaan ayahku: ia tak tahan membiarkan
anggota keluarga yang lain masih terlelap setelah dirinya selesai membaca
rubrik olahraga, satu-satunya bagian surat kabar yang menarik baginya. Meski
begitu, ia masih punya sedikit kesopanan untuk memeras empat buah jeruk
tambahan dan meninggalkan segelas jus di antara tumpukan buku di meja samping
tempat tidurku.
“Kau tidak mungkin membaca dua puluh atau tiga puluh buku
sekaligus,” katanya.
Aku sebenarnya hendak menjawab bahwa membaca dua puluh
atau tiga puluh buku sekaligus bukanlah hal yang sulit bagiku, dan bahwa
beberapa buku, terutama kumpulan puisi, sesungguhnya tak pernah benar-benar
selesai dibaca. Namun, aku memilih berpura-pura masih tidur.
“Kau harus potong rambut,” katanya lagi. “Sebelum
berangkat ke New York. Orang-orang akan mendiskriminasi dirimu kalau kau datang
ke sana dengan rambut panjang.”
Ia meninggalkan kamar, dan selama beberapa detik aku membiarkan
diriku berharap ia tak akan kembali. Aku bangkit, menenggak habis jus jeruk
itu, lalu menatap langit-langit dengan gelas kosong masih menempel di bibirku.
Ayahku sudah kembali ke kamar. Aku bisa merasakan
tatapannya yang menunggu jawaban, tetapi aku tak membalasnya.
“Jadi, kau akan potong rambut atau tidak?”
“Tidak.”
“Kalau kau tidak potong rambut, kau tidak akan pergi ke
New York.”
“Kalau begitu, aku tidak akan pergi ke New York. Aku
tidak peduli dengan New York. Aku tidak akan potong rambut.”
Sesungguhnya, memang tak terlalu benar-benar kupedulikan
New York. Apa yang kuketahui tentang kota itu saat itu? Hanya apa yang kudapat
dari menonton Seinfeld atau Taxi Driver? Atau apa yang sedikit
banyak kupahami dari lagu Frank Sinatra yang klise itu? Kota mana pun yang
menjadi tujuan pasti akan terasa sama mengagumkannya bagiku. Sebab, meskipun
aku sudah cukup jauh menjelajahi Chile dengan bus dan kereta api, aku belum pernah
sekalipun menginjakkan kaki di pesawat terbang.
Perjalanan itu adalah hadiah, hadiah yang sama sekali tak
pernah kuduga. Selama bertahun-tahun, aku dan ayahku bertengkar tentang apa
saja, tentang segala hal. Bukan sesuatu yang istimewa; hubungan kami hanyalah
versi klasik dari pertentangan antara ayah dan anak laki-lakinya. Aku tahu itu,
tetapi pengetahuan tersebut tak sedikit pun membuatku merasa lebih baik.
Aku menolak untuk menyerah pada keadaan. Ayahku selalu
berteriak lebih keras dariku dan tak pernah meminta maaf setelahnya. Namun,
setelah pertengkaran yang sangat sengit beberapa waktu sebelumnya, ia menemukan
caranya sendiri untuk memohon ampun: ia menukarkan poin perjalanan yang
dimilikinya dengan sebuah tiket atas namaku. Ia mengandalkan unsur kejutan, dan
ia benar. Sebab, ia sendiri yang menentukan tanggal keberangkatan dan memilih
tujuan yang terdengar begitu abstrak sekaligus spektakuler itu.
“Jadi, kau tidak akan pergi ke New York? Bagus, kau sudah
menyia-nyiakan semuanya,” kata ayahku tak percaya. “Nanti kau akan berlutut
memohon kepadaku. Kau akan menyesali ini.”
“Aku tidak akan menyesal.”
Ketika mengucapkan keputusan yang baru saja kuambil itu,
aku merasakan semacam vertigo sekaligus kewibawaan yang muncul saat seseorang
melontarkan kalimat-kalimat penting, kalimat-kalimat yang tak menyisakan ruang
bagi kemungkinan untuk menariknya kembali. Dan setelah itu, aku membuat
keputusan lain: aku akan meninggalkan rumah untuk selamanya.
“Baiklah. Tiketnya kubatalkan,” kata ayahku beberapa jam
kemudian. Ia baru saja selesai menelepon maskapai penerbangan.
“Bagus,” jawabku.
“Jadi, jam berapa kita mulai latihan menyetir?”
“Tidak akan pernah.”
“Tapi kita sudah sepakat.”
“Tapi kita sedang bertengkar.”
“Kau tahu betul bahwa kedua hal itu tidak ada hubungannya
satu sama lain.”
“Ada,” kataku.
***
Sepanjang akhir pekan, aku mengurung diri di kamar,
membaca dua puluh atau tiga puluh buku yang menumpuk di meja samping tempat
tidurku. Senin dan Selasa kuhabiskan untuk mencari tempat tinggal baru. Aku
punya sedikit tabungan dari pekerjaan sebagai asisten dan pekerjaan musim
panas, tetapi semua tempat yang kudatangi berada di luar jangkauan keuanganku.
Aku mulai putus asa, sebab satu-satunya rencana cadangan yang kumiliki hanyalah
tetap tinggal di rumah sambil menekan amarahku dalam-dalam. Namun, akhirnya,
nyaris seperti sebuah keajaiban, kutemukan sebuah kamar murah di sebuah
apartemen yang berhadapan dengan Stadion Nasional, tak jauh dari kampus.
Aku bisa pindah pada hari Kamis. Artinya, aku masih punya
satu hari penuh, hari terakhirku di rumah itu, yang kuhabiskan dengan memeriksa
setiap sudut rumah orang tuaku, seolah-olah aku sedang mengumpulkan bahan untuk
kenangan-kenangan yang kelak akan datang. Setelah itu, aku berjalan menyusuri
lingkungan tempatku dibesarkan, bergaya seperti karikatur seorang anak muda
yang baru saja naik kelas sosial. Aku memaksa diriku memandang rendah
jalan-jalan yang sejak kecil kukenal, mengarang jarak, penghinaan, dan
kebencian yang sebenarnya tak sungguh-sungguh kurasakan.
Aku menghibur diri dengan membayangkan
percakapan-percakapan menarik tanpa akhir—saat itu aku belum menganggap kata “menarik”
sebagai sesuatu yang konyol—bersama teman-teman baruku kelak, ketika siku kami
bertumpu di atas meja di Las Lanzas atau Los Cisnes. Bahkan hamparan rumput
kampus yang gersang dan tak ramah itu mendadak tampak seperti versi yang cukup
bisa diterima dari locus amoenus.
Aku berbicara dengan Ibu dan saudara perempuanku, meminta
mereka merahasiakan rencanaku. Mereka menanggapinya dengan campuran kecemasan
dan solidaritas yang, entah mengapa, justru membuatku gelisah. Setelah mereka
pergi tidur, aku tetap tinggal di ruang makan dan menyalakan televisi. Tak
perlu membuat rencana apa pun. Sudah jelas ayahku akan pulang tepat sebelum
pertandingan Colo-Colo dimulai. Dan begitulah yang terjadi. Sudah berhari-hari
kami tak saling mengucapkan sepatah kata pun. Namun, malam itu kami menonton
pertandingan sepak bola bersama, bahkan sempat bertukar beberapa kalimat,
semacam, “Itu seharusnya kartu merah!” atau “Dia tidak dalam posisi offside.”
Aku tak ingat siapa yang menang. Kurasa pertandingan itu berakhir tanpa gol.
Atau mungkin ada gol, tetapi sesungguhnya kamilah yang sedang bermain imbang:
ayahku dan aku, dua orang yang tak tahu bagaimana mengalahkan satu sama lain.
Ayahku mengangkat alis sebagai pengganti ucapan selamat
malam. Aku tidak pergi tidur. Malam itu, kutulis “Surat untuk Ayahku”. Saat itu
aku belum pernah membaca “Surat kepada Ayah” karya Kafka. Kurasa aku bahkan
tidak tahu bahwa surat semacam itu pernah ada. Aku mengetik suratku di komputer
rumah karena tak ingin tulisan tanganku merusak pesan yang hendak kusampaikan.
Kupilih jenis huruf Century Gothic dengan ukuran yang sangat besar, mungkin
delapan belas atau dua puluh poin, untuk berjaga-jaga kalau ayahku membacanya
tanpa lensa kontak. Ia hanya melepas lensa itu ketika hendak tidur, tetapi
entah mengapa aku membayangkan dirinya memegang lembaran suratku dekat-dekat ke
matanya yang telanjang—mata aslinya, kalau boleh kusebut begitu.
Keesokan paginya, setelah semua orang meninggalkan rumah,
kucetak surat itu, seluruh dua belas halamannya. Surat itu tidak agresif.
Isinya melodramatis dan lembut, meskipun aku sudah berusaha sekuat tenaga
menghindari kelembutan. Mungkin aku menulis seolah-olah akulah orang dewasa di
antara kami, dan aku harus menjelaskan bahwa meninggalkan rumah adalah
satu-satunya cara agar aku tidak membencinya, dan tidak membenci diriku
sendiri. Kumasukkan surat itu ke dalam amplop, kuhapus berkasnya dari hard
drive, lalu mulai memasukkan buku-bukuku ke dalam kantong-kantong sampah. Aku
mendapati diriku menghitung satu per satu: sembilan puluh dua buku. Seorang
teman datang membawa mobil bak pinjaman, meskipun mobil kecil pun sebenarnya
sudah cukup untuk mengangkut kesembilan puluh dua bukuku dan beberapa potong
pakaian.
***
“Semua yang ingin kukatakan sudah tertulis di surat itu,”
kataku kepada ayahku, dengan semacam kebanggaan seorang penulis, ketika kami
bertemu lagi pada Jumat berikutnya.
“Aku tidak membacanya.”
“Kau tidak membacanya?”
“Akan kubaca nanti, saat aku ingin menangis. Tapi,
entahlah, aku tak pernah ingin menangis.”
Yang ingin kuketahui hanyalah apa yang dipikirkan atau
dirasakannya ketika membaca surat itu. Tak pernah terlintas dalam benakku bahwa
ia mungkin tidak akan membacanya sama sekali. Kami berada di kantornya, di
sebuah ruang rapat yang teramat mungil, seolah-olah kami sedang menyusun
strategi bisnis sebuah perusahaan rintisan atau semacamnya. Tak jelas apa yang
sebenarnya perlu kami bicarakan. Atau mungkin justru terlalu jelas,
hanya saja ada begitu banyak hal yang mesti dibicarakan sampai-sampai kami tak
tahu harus memulainya dari mana.
Ayahku merangkai sebuah pidato yang sangat umum,
terdengar seperti kutipan dari buku pengembangan diri tentang hubungan ayah dan
anak. Aku lebih memperhatikan wibawa dalam suaranya yang keras, tetapi sengaja
dilunakkan. Seperti yang kerap kulakukan, aku mengamati pembuluh-pembuluh darah
yang pecah di matanya, terutama mata kirinya. Bentuknya menyerupai sungai
dengan anak-anak sungai kecil yang bercabang ke segala arah, seolah-olah
menandakan suatu penderitaan yang asal-usul maupun muaranya tak berani kutebak.
Itu penderitaan ayahku, tetapi sekaligus juga penderitaanku sendiri.
Penderitaan karena menatap mata ayahku dan menyadari bahwa aku tidak mengenalnya;
bahwa sepanjang hidupku, aku telah tinggal bersama seseorang yang tak kukenal
dan, barangkali, tak akan pernah kukenal.
“Jadi, sekarang kita sudah saling mengerti?”
Aku tidak mendengar apa yang dikatakannya. Atau mungkin
aku hanya mendengar alunan suaranya, tanpa menangkap satu pun makna di
dalamnya.
“Aku tadi tidak mendengarkan,” kataku.
“Apa?”
“Pikiranku melayang.”
Ia kembali mengucapkan beberapa patah kata, dengan sisa
kesabaran yang ditirunya dengan buruk. Aku mulai berteriak kepadanya. Aku tak
ingat apa yang kuteriakkan, tetapi ia hanya menatapku tanpa sedikit pun
terusik, seperti seorang politikus atau orang mati.
“Jangan berlebihan,” potongnya. “Kau bereaksi terlalu
jauh. Kau selalu begitu. Kau sudah pergi, semuanya sudah selesai. Di Amerika
Serikat, anak-anak meninggalkan rumah jauh lebih muda. Di sana, kau malah akan
dianggap terlambat dewasa. Dan aku senang, karena sekarang aku punya satu kamar
tambahan di rumah. Aku akan memasang televisi besar di sana, supaya bisa
begadang sampai pukul lima pagi sambil menonton film.”
***
Aku kembali terlambat masuk kelas Schuster. Sebenarnya
aku sedang tak ingin kuliah, tetapi kupikir mungkin saja aku akan bertemu
denganmu. Kau tidak ada di sana. Hampir tak ada mahasiswa yang hadir, sebab
kelas hari itu diajar oleh asisten dosen, yang bahkan tidak mengisap sebatang
rokok pun sepanjang perkuliahan. Kelasnya terasa berbeda, dan sesungguhnya
sangat bagus, penuh dengan gagasan-gagasan yang terasa baru. Aku ingat kami
membaca beberapa fragmen “Rumah Kardus” karya Martín Adán, serta sebuah puisi
Luis Omar Cáceres. Baris-baris pertamanya langsung membekas dalam ingatanku,
seolah-olah aku sudah mengenalnya sejak dulu:
“Sekarang, ketika jalan telah mati / dan pantulan kita di
mobil terbuka menjilat hantunya / dengan lidah yang kelu . . .”
Mungkin aku berjalan beberapa blok mengikuti irama puisi
itu, kembali membolos kelas Metodologi dan langsung menuju Plaza Ñuñoa. Aku
ingin berbicara dengan Miguel, meskipun begitu tiba di Mad Toy aku sadar bahwa
sebenarnya aku ingin berbicara denganmu. Kutanyakan kepada Miguel apakah kau
sempat mampir ke toko buku, dan ia menjawab tidak. Kuceritakan kabar tentang
diriku secara singkat, sekadarnya saja. Ia mendengarkan dengan saksama, lalu
berkata, “Kau akan baik-baik saja.”
Ia memintaku bercerita lebih jauh, menanyakan banyak hal,
sampai ke detail-detail kecil. Ia bertanya apakah aku membutuhkan sesuatu, uang
atau apa pun yang lain.
“Yang kubutuhkan pekerjaan,” jawabku.
“Yah, aku tak bisa memberimu pekerjaan,” katanya. “Aku
sendiri saja nyaris tak punya pekerjaan. Kami akan tutup. Sepertinya sudah
pasti.”
“Kapan?”
“Dua bulan lagi, kalau beruntung. Kami akan berusaha
bertahan sampai Natal, tapi bakal sulit.”
“Sial, buruk sekali.”
“Jadi, kami tak bisa mempekerjakanmu.”
“Ya, tentu saja.”
Bayangan bekerja di Mad Toy selama ini terasa seperti
mantra ajaib yang bisa membereskan segala persoalanku. Namun, saat itu aku sama
sekali tak memikirkan kemiskinan yang sebentar lagi akan kuhadapi. Yang
membuatku sedih justru membayangkan tempat itu kelak kosong, lalu diambil alih oleh
sebuah kafe atau salon rambut bodoh. Di salah satu rak kutemukan “Pembelaan
terhadap Sang Berhala”, satu-satunya buku yang pernah diterbitkan Luis Omar
Cáceres. Kubaca setiap puisi di dalamnya berulang kali. Sesekali Miguel
mengatakan sesuatu dan aku menanggapinya. Ada kalanya percakapan kami terasa
seperti obrolan ramah yang terputus-putus antara dua orang asing yang kebetulan
duduk berdampingan di ruang tunggu dokter atau di sebuah rumah duka. Namun,
ketika aku hendak pergi, Miguel menyodorkan selembar kertas berisi nomor
telepon sepuluh orang yang mungkin bisa memberiku pekerjaan, apa saja: menjadi
guru les bahasa Latin, pesuruh, penjaga rumah, atau asisten bagi seorang
asisten editor.
“Aku akan membiarkan rambutku panjang sebagai bentuk
solidaritas kepadamu,” katanya ketika kami berpelukan untuk berpamitan.
***
Aku membeli beberapa dobladitas dan empat lembar
keju, lalu berjalan menuju tempat tinggalku yang baru. Pikiranku masih tertuju
pada toko buku yang sebentar lagi akan kosong, tetapi aku juga membayangkan
diriku yang lain: berjalan menyusuri sebuah jalan di New York yang tak kukenal,
dengan rambut pendek dan tatapan linglung. Aku membayangkan diriku sebagai
sebatang pohon muda, pohon yang baru dipangkas, yang ingin merentangkan
dahan-dahannya dan menjangkau sinar matahari agar bisa tumbuh lebih tinggi. Itulah
yang sedang kupikirkan ketika kusadari kau berada di sana, hampir menginjak
tumitku, bersama anjingmu.
“Sudah beberapa blok kami mengikutimu. Mengejarmu.”
Aku tak memercayaimu. Namun, sesaat kemudian, muncul
perasaan bahwa kau memang sudah berada di dekatku sejak tadi.
“Kenapa?”
“Aku ingin kau berkenalan dengan Flush.”
Flush adalah anjing kecil berbulu hitam, anjing kampung
dengan mata yang selalu basah, bertubuh agak mirip sosis, dan berjalan dengan
gaya angkuh, seolah-olah dunia tak ada hubungannya dengan dirinya. Mula-mula
aku mengira ia pincang, tetapi kemudian kupikir barangkali ia hanya memperindah
langkahnya dengan lompatan-lompatan kecil yang genit. Kau bercerita tentang “Flush”,
buku karya Virginia Woolf yang menjadi asal nama anjingmu. Kau juga memberiku
sebuah buku, “The Subterraneans”, novela karya Jack Kerouac yang belum pernah
kudengar sebelumnya. Tak lama kemudian aku membacanya, dan sampai sekarang
masih kubaca ulang setiap dua atau tiga tahun, selalu ingin kembali merasakan
gempa yang hangat dari bagian akhirnya, salah satu penutup cerita terbaik yang
pernah kubaca.
Kami tiba di depan gedung tempat tinggalku, lalu duduk di
anak tangga. Aku membuat beberapa roti lapis keju, dan anjing itu juga mendapat
satu. Hanya dalam seminggu, segalanya telah berubah secara radikal, dan aku
berusaha menjelaskan semuanya kepadamu. Namun, untuk melakukannya, aku harus
menceritakan seluruh riwayat hidupku, yang sebenarnya tak terlalu kaya akan
peristiwa, meskipun saat itu mungkin aku menganggapnya demikian. Kuceritakan
semuanya, atau hampir semuanya. Aku bicara selama kira-kira dua jam. Hari
hampir gelap ketika akhirnya kata-kataku habis dan aku menunggu giliranmu
bicara. Namun, tak ada sepatah kata pun yang keluar darimu.
“Masuk saja, yuk. Agak dingin,” hanya itu katamu.
Pemilik rumah sedang bersama beberapa wisatawan—kurasa
mereka orang Kanada—yang akan menyewa kamar-kamar lainnya. Ia dan anak-anak
perempuannya sendiri akan tidur di ruang tamu, beralaskan kantong tidur. Ia
menawarkan anggur kepada kami, tetapi kami memilih masuk ke kamarku.
Kau merebahkan diri di atas kasur dengan santai,
seolah-olah kau memang tinggal di sana. Flush berbaring di dekat kakimu sambil
menggigiti tali kekangnya, berharap kau melepaskannya. Aku berusaha sedikit
merapikan kamar. Aku belum sempat membeli rak buku, sehingga buku-bukuku masih
tersimpan di dalam kantong-kantong sampah, begitu pula pakaianku.
Cahaya lampu jalan yang jauh menyusup samar-samar melalui
jendela. Aku memperhatikanmu berbicara, bibirmu nyaris tak bergerak. Kau
bercerita tentang ibumu yang telah meninggal, tentang film-film yang dahulu
ditonton ibumu bersama ayahmu, dan yang kini kau tonton bersama ayahmu pula.
“Gabriela suka sekali bagian ini,” ayahmu akan menyela, dengan antusiasme yang
mengharukan sekaligus menyakitkan bagimu. Lalu kau bercerita tentang insomnia,
obat-obatan yang kauminum untuk mengatasinya, dan sebuah novel tentang insomnia
yang ingin kautulis. Tentang saat kau keracunan makanan gara-gara menyantap
kerang di Pelluhue. Tentang lagu-lagu, pohon-pohon, dan burung-burung
kesukaanmu, serta sebuah teori aneh tentang cara membuat salad yang sempurna.
Kau juga menyebutkan empat atau lima orang yang kaubenci—kurasa teman-teman
SMA-mu dan seorang mantan pacar. Aku ingat sempat berpikir bahwa orang-orang
itu tak pantas menerima kebencianmu, sebagaimana mereka tak pantas menerima
kebencian siapa pun. Namun, aku tak mengatakannya. Aku juga ingat bagaimana
kebahagiaan yang mendadak dan begitu kuat memenuhi diriku ketika kusadari bahwa
kau tidak membenciku. Pada suatu titik, tanpa tanda-tanda apa pun, kau
tiba-tiba menangis. Aku berusaha menghiburmu.
“Aku cuma kesal sekali pada ayahmu,” katamu.
“Itu sebabnya kau menangis? Gara-gara ayahku?” tanyaku.
“Aku tidak tahu. Aku bukan menangis karena itu. Aku tidak
sedih,” jawabmu. “Aku tidak pernah menangis karena sesuatu yang benar-benar
tertentu. Aku hanya sudah terbiasa menangis. Aku mendukung air mata.”
“Aku juga.”
“Aku bohong. Aku menangis karena aku selalu berpura-pura,
setiap saat. Aku sebenarnya tidak seperti ini.”
“Aku suka dirimu yang seperti ini. Meskipun aku sendiri
tidak tahu seperti apa dirimu sebenarnya. Aku juga selalu berpura-pura. Di
hadapanmu, di hadapan semua orang.”
“Ya.”
Lalu datanglah keheningan panjang, keheningan yang terasa
penting sekaligus menyenangkan. Seperti seseorang yang sedang menghafal daftar
belanjaan, aku mengulang-ulang rincian percakapan kami di dalam kepala, supaya
tak ada satu pun yang terlupakan.
“Menurutmu, ayahmu akan membaca surat itu suatu hari nanti?”
tanyamu.
Aku baru saja menceritakan surat itu kepadamu, tetapi
rasanya bagian percakapan tersebut sudah benar-benar tertinggal di belakang.
Sulit bagiku untuk kembali ke keadaan batin saat aku menceritakannya. Aku juga
merasa bahwa pertemuanku dengan ayahku seolah-olah telah terjadi jauh di masa
lampau. Meski begitu, kucoba menjawab dengan jujur: kupikir sebenarnya ayahku
sudah membaca surat itu, tetapi berbohong ketika mengatakan bahwa ia belum
membacanya.
“Ya, dia sudah membacanya. Aku yakin,” katamu.
Flush tergeletak dengan tubuh terentang, mendengkur. Kau
pergi ke kamar mandi, lalu ketika kembali, kau menjatuhkan diri lagi ke atas
kasur. Sepuluh detik kemudian, seolah-olah baru teringat akan sesuatu yang
mendesak, kau bangkit, menyalakan lampu, dan mulai mengeluarkan buku-bukuku
dari kantong satu per satu. Hampir tanpa melihat judulnya, kau menyusunnya
menjadi tumpukan-tumpukan tinggi seperti menara.
“Inilah New York-mu,” katamu. “Lihat, ini gedung-gedung
di Manhattan, gedung-gedung pencakar langit.”
Kami menumpuk buku-buku itu menjadi tiruan gedung Empire
State, Chrysler, dan Menara Kembar yang berdiri dengan goyah, disusun seadanya.
Saat itu, kedua menara tersebut masih berdiri. Kami belum berciuman, belum
tidur bersama, dan belum mengetahui apa pun tentang masa depan dengan pasti.
Barangkali aku sempat menduga, atau sekadar membayangkan, bahwa kami akan
menghabiskan waktu yang panjang bersama-sama—beberapa tahun, mungkin sepanjang
hidup kami. Namun, aku tak pernah menyangka bahwa tahun-tahun itu akan dipenuhi
kegembiraan, gairah, dan kepahitan, lalu disusul puluhan tahun ketika kami tak
mengetahui apa-apa tentang satu sama lain. Hingga akhirnya tiba saat ketika
rasanya mungkin, masuk akal, untuk menceritakan sebuah kisah—kisah apa saja,
kisah ini—dan menghapus dirimu darinya.
Malam itu, mustahil menghapusmu dari mana pun. Dan tak
satu pun pikiran tentang masa depan benar-benar berarti bagi kami saat itu,
ketika kami menggunakan buku-bukuku sebagai batu bata untuk meniru
gedung-gedung yang menjulang tinggi, megah, dingin, jauh, absurd, dan indah
itu. []
(Cerpen ini saya terjemahkan dari bahasa Inggris dengan
judul Skyscrapers, terjemahan dari bahasa Spanyol oleh Megan McDowell. Diterbitkan
dalam edisi cetak The New Yorker, 22 Agustus 2022.)

Comments
Post a Comment