Paris (Part 1)

 



Aku tiba di Paris pada bulan Desember, ketika matahari datang terlambat dan pergi terlalu cepat. Penerbanganku bermasalah sejak kota asal: jadwal berubah, antrean memanjang, wajah-wajah lelah yang menolak saling menatap. Aku baru benar-benar merasa sampai ketika pintu Bandara Charles de Gaulle terbuka dan udara dingin menghantam wajahku tanpa basa-basi.


Dingin Paris bukan dingin yang bisa dijelaskan dengan angka. Ia basah, menyelinap, dan menetap. Napasku memendek. Ujung hidung perih. Tubuhku seperti harus belajar ulang cara berdiri.


Aku berdiri di depan ban berjalan bagasi bersama penumpang lain. Koper-koper muncul satu per satu, berputar dengan patuh, seolah masing-masing tahu ke mana mereka harus kembali. Milikku tidak pernah datang. Ban itu terus bergerak sampai akhirnya berhenti, kosong, lalu dimatikan. Di dadaku, ada sesuatu yang ikut berhenti berputar.


Semua bajuku ada di sana. Jaket tebal, sweater, kaus kaki cadangan. Juga puluhan bungkus mi instan rasa soto Banjar—bekal yang sengaja kubawa dari rumah, rencananya untuk bertahan hidup sampai tanggal lima Januari. Di kota yang mahal dan asing, mi instan itu bukan sekadar makanan. Ia cadangan. Jaminan bahwa aku tidak akan sepenuhnya sendirian.


Aku membuat laporan kehilangan di konter maskapai. Petugasnya sopan dan datar, kalimatnya rapi, nadanya terlalu tenang. Aku diminta menunggu. Menunggu terdengar ringan, tapi mengendap lama di tubuh.


Di luar bandara, temanku sudah menunggu. Ia sedang kuliah S2 di Paris. Wajahnya sedikit berubah sejak terakhir kali kami bertemu, tapi caranya tertawa masih sama. Kami naik kereta menuju apartemennya. Dari jendela, kota lewat dalam potongan-potongan: jalan basah, bangunan abu-abu, orang-orang yang berjalan cepat seolah dingin adalah sesuatu yang harus dilalui, bukan dirasakan.


Dua malam pertama aku menginap di apartemennya. Kecil, hangat, tertib. Aku meminjam jaket dan sweater darinya—ukurannya tidak sepenuhnya pas, tapi cukup menahan dingin. Kami makan sederhana dan berbincang tentang hal-hal ringan, seolah dengan begitu kenyataan tentang koper yang hilang bisa ditunda.


Tiga hari berlalu tanpa kabar lanjutan. Karena aturan apartemen, aku harus pindah. Aku menempati sebuah Airbnb di lantai empat bangunan tua tanpa lift. Tangga sempit, dindingnya dingin, kamar menghadap ke atap-atap seng yang selalu basah. Di sanalah hari-hariku benar-benar dimulai.


Di dalam ranselku ada laptop. Benda paling berharga yang masih kumiliki. Aku trader. Perjalanan ke Paris ini bukan hadiah dan bukan liburan. Ia hasil dari layar-layar panjang, grafik yang bergerak cepat, keputusan yang dibuat dalam detik-detik sempit. Uang dari trading itulah yang membawaku ke kota ini, memberiku keyakinan bahwa hidup bisa diatur lewat perhitungan.


Namun sejak tiba di Paris, semuanya meleset.


Setiap pagi aku membuka laptop di meja kecil Airbnb. Grafik bergerak cepat, garis naik turun yang dulu terasa akrab. Tapi kini keputusanku ragu. Aku masuk posisi terlalu cepat, keluar terlalu lambat. Kerugian kecil menumpuk, lalu berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Modal yang kubawa justru semakin habis.


Aku mencoba menyalahkan banyak hal: perbedaan zona waktu, koneksi internet, tubuh yang belum beradaptasi. Tapi aku tahu, ada yang terganggu. Kehilangan koper itu bukan peristiwa kecil. Ia menggerogoti rasa kendali yang selama ini kuanggap kuat.


Di siang hari, aku berjalan keluar. Mendatangi tempat-tempat yang selama ini hanya kukenal dari foto. Paris di bulan Desember tidak berusaha memikat; ia dingin, kelabu, dan jujur.


Menara Eiffel kudatangi pada suatu siang ketika gerimis turun pelan. Langit rendah dan pucat, besinya tampak gelap. Orang-orang membuka payung, kamera dilap tergesa. Aku berdiri agak jauh, membiarkan gerimis meresap ke jaket pinjaman. Tidak ada momen agung. Hanya hujan kecil dan menara yang berdiri tanpa peduli.


Di tepi Sungai Seine, air mengalir pelan dengan warna kehijauan. Aku berhenti di sebuah jembatan. Pagar besinya dipenuhi gembok—ribuan jumlahnya, berkarat, kusam, saling bertumpuk. Ada nama, inisial, tanggal yang hampir hilang. Gembok-gembok itu menggantung tanpa kunci yang pernah diambil kembali. Janji-janji yang dibiarkan menetap di udara dingin. Sungai di bawah membawa pantulan mereka sebagai kilatan kecil yang segera pecah.


Aku masuk ke Louvre tanpa rencana, duduk di bangku kayu, menghangatkan tubuh. Montmartre kudatangi menjelang sore, napasku pendek di tangga-tangga panjang, kopi panas di tangan. Di sekitar Notre-Dame, aku hanya bisa melihat dari luar. Bangunan itu masih terluka, dipagari, dijaga jarak. Ada sesuatu tentang bangunan yang pernah terbakar tapi tetap berdiri yang membuatku lebih tenang tentang kehilanganku sendiri.


Namun dingin tidak pernah benar-benar pergi.


Ia ikut masuk ke kamar Airbnb. Dinding menyimpan udara malam. Lantai kejam bagi telapak kaki. Aku tidur dengan pakaian lengkap dan tetap terbangun karena menggigil. Aku mulai berpikir: mungkin inilah neraka versi kota ini. Bukan api, bukan teriakan, melainkan dingin yang membuat segalanya melambat—langkah, pikiran, keputusan.


Suatu pagi, aku membuka laptop lebih awal. Pasar bergerak cepat. Volatilitas tinggi. Kondisi yang biasanya kucari. Sinyal muncul—jelas. Aku tahu apa yang harus kulakukan.


Tapi tubuhku tidak bergerak.


Ada jeda aneh di kepalaku. Detik berlalu. Harga bergerak. Tanganku kaku. Napasku pendek. Aku menunggu rasa yakin yang biasanya datang sendiri, tapi ia tidak muncul. Ketika akhirnya aku menekan tombol entri, semuanya sudah terlambat.


Order masuk dengan delay. Harga sudah melesat. Posisi langsung merah.


Aku terpaku. Freeze. Seperti di bandara, menunggu koper yang seharusnya muncul, tapi tidak pernah datang. Dalam hitungan menit, kerugian membesar. Aku menutup posisi dengan tangan gemetar. Modal yang tersisa kini terasa hampir tidak nyata.


Aku menutup laptop perlahan, lalu duduk di lantai, bersandar pada dinding dingin. Tidak ada teriakan. Tidak ada drama. Hanya kelelahan yang tiba-tiba berat. Aku sadar: yang hilang bukan hanya koper, bukan hanya uang. Ada sesuatu dalam diriku yang ikut tercecer—rasa percaya bahwa aku selalu tahu kapan harus bergerak.


Malam itu aku berjalan tanpa tujuan. Jalan basah memantulkan lampu. Paris tetap berjalan, tetap dingin, tetap tidak peduli. Di kota ini, aku belajar bahwa tidak semua hal bisa dikunci agar bertahan. Modal bisa habis. Keyakinan bisa bocor pelan-pelan. Bahkan ketenangan bisa hilang tanpa suara.


Aku tidak tahu bagaimana cerita ini akan berakhir. Apakah koporku akan kembali. Apakah aku akan pulang dengan cukup. Yang kutahu hanya satu: aku sudah tiba di sini, tanpa perlindungan, tanpa cadangan, berdiri dalam dingin yang terasa seperti neraka.


Dan untuk sementara waktu, itu saja yang kupunya.


(bersambung…)

Comments