Jakarta, Kamu, dan Mimpi-mimpi yang Tertambat di Waktu Pagi

Aku bukan pendoa yang baik. Bahkan, aku jarang sekali melakukan doa. Yang ada seringkali hanyalah percikan harapan-harapan kecil, yang lebih lirih dari gumam, tersembunyi di sudut dada yang entah. Namun, rupanya Tuhan mendengar semuanya itu. Dan beberapa, Ia kabulkan.
Begitulah, saat lamaran sebagai perawat ICU di RS Atma Jaya (Jakarta Utara) kukirim, aku nyaris tak pernah berdoa atas nasib berkas-berkas itu. Aku tetap bekerja, dan tetap sesekali mencoba mengirim lamaran kerja ke tempat lain yang kemungkinan gajinya lebih tinggi. Ya, aku perlu uang. Aku perlu lebih mandiri. Aku perlu, untuk tidak lagi meminta uang pada orangtua. Aku perlu biaya untuk hidupku, untuk menikah, untuk membangun rumah tangga yang baik dengan seseorang (yang sampai sekarang masih disembunyikan Tuhan).

Kemarin siang, tepat saat aku di depan toko alat tulis untuk beli amplop buat lamaran kerja, ponselku berbunyi. Nomor tak dikenal. Nomor Jakarta. Kuangkat, dan, yah, dari HRD RS Atma Jaya, memintaku datang untuk wawancara keesokan harinya (hari ini) jam 7 pagi. Tentu saja aku bingung menjawabnya. Aku jelas senang, dan kehilangan akal untuk menyusun kalimat yang baik, bahkan bicaraku campur dengan Bahasa Banjar. Kujelaskanlah bahwa aku sekarang di Kalimantan. Ibu di seberang bertanya kapan aku ke Jakarta. Kujawab bahwa aku tidak bisa memastikan, namun akan kuusahakan untuk datang besok, jam 7 pagi. Ibu di seberang mengucap selamat siang dan menutup telepon. Aku tidak jadi beli amplop. Balik ke kost, minum air putih banyak-banyak untuk meredakan shock-ku, dan menghubungi saudaraku, orang paling tepat pada setiap situasi gawat darurat. Ini soal uang, tentunya. Kau pikir ada rumah sakit yang mau membiayai perjalananmu dari Kalimantan ke Jakarta hanya untuk mewawancara seorang peruntungan yang belum tentu bisa bekerja? Kakakku bertanya, yakinkah bahwa itu bukan penipuan. Tentu saja bukan, jawabku. Aku sudah menyelidikinya dengan sungguh-sungguh. Panggilan wawancara itu benar adanya. Kakakku tidak bisa memberi pendapat saat itu, dan bilang akan menanyakannya pada Ibu. Ah Ibu, entahlah, ia sudah tua, dan barangkali tak akan mengijinkan anak lelaki satu-satunya ini untuk pergi terlalu jauh dari jangkauannya. Aku akan lebih senang jika meminta ijinnya ketika aku memang sudah pasti diterima, bukan untuk wawancara yang belum tahu hasilnya.
Tidak lama Kakak menelepon lagi, namun suara Ibu yang ada di sana. Ia orangtua yang sederhana. Bertanya lagi tentang ada apa sebenarnya ini, apa yang terjadi? Aku menjelaskannya lagi, bahwa ini masih tidak jelas hasilnya, namun yang jelas ini bukan penipuan. Ibu bilang, bahwa ia selalu mendukungku, apapun untuk menjadikan hidupku lebih baik. Dan aku terharu mendengarnya. Ia bertanya kira-kira berapa uang yang kuperlukan untuk ke Jakarta, sembari berdoa agar semuanya lancar dan berhasil.
Aku lalu menyiapkan segalanya, tiket pesawat, pakaian, menginstall aplikasi Go-Jek, berkas-berkas yang akan dibawa, memberi tahu Arif bahwa ia mungkin akan menggantikan jadwal dinasku, mengabari Shopi bahwa aku batal menggantikan dinas malamnya, dan doa. Ya, kali ini aku harus berdoa.
Tiket pesawat jam delapan malam. 90 menit sebelumnya aku sudah di bandara, sesuai yang dianjurkan. Beruntung tidak ada delay. Pesawat berangkat. Dua jam kemudian, aku sudah berdiri di Soetta, menunggu bis Damri jurusan Mangga Dua. Menunggu yang cukup lama. Sampai di Mangga Dua mencari Go-Jek yang lantas membawaku melihat langsung rumah sakit yang memanggilku itu, dan kemudian mencari penginapan murah, dan ketemu, dan si Mbak respsionis manis sekali. Tepat jam 00.00 waktu setempat, yang artinya pukul satu dini hari di jam tanganku, barulah aku bisa meluruskan pinggang di atas kasur.
Alarm kusett, kemudian tidur, yang sangat tidak nyenyak.
***
Aku bangun, mandi, mengenakan kemeja, shalat subuh, lalu memesan Go-Jek. Aku harus berangkat satu jam sebelum jam yang ditentukan agar terhindar dari macet. Rupanya, aku justru sampai 40 menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Waktu berlalu dengan menunggu. Hingga akhirnya kami dipanggil. Ya, kami. Ada sebelas orang peserta wawancara yang lain yang datang pagi ini, dengan berbagai profesi (nantinya aku tahu bahwa sejak beberapa hari ini beberapa orang dipanggil sedikit demi sedikit).
Dugaanku meleset, kukira hari ini hanya ada wawancara, ternyata ada rangkaian psikotest yang harus dilewati. Dalam psikitest awal itu, tujuh orang gugur, tersisa lima (Termasuk aku, tentunya. Kalau tidak aku mungkin tidak akan membuat postingan ini). Psikotest berlanjut, lalu dilanjutkan tes kompetensi dengan 90 soal keperawatan yang harus dijawab, soal-soal yang mirip dengan Uji Kompetensi dulu. Nah, usai semua itu, barulah wawancara. Wawancaraku kurang begitu lancar, aku tidak tahu banyak tentang diriku sendiri. Tapi itu tidak masalah, setidaknya tidak ada jawaban yang mutlak benar di sana.
Dalam kesempatan ini aku juga tahu bahwa kalau nanti aku diterima, gaji yang akan kudapat mungkin akan di bawah dari yang awalnya kuharapkan. Negosiasi mengenai gaji ini akan dilakukan via telepon kira-kira seminggu kemudian ketika aku dinyatakan lolos, lalu nanti akan ada MCU dan test lain yang aku lupa apa namanya. Intinya, proses ini masih panjang. Bahkan hari ini, setelah istirahat makan siang nanti akan ada wawancara lagi dengan user, maksudnya dengan bagian keperawatan.
Dengan peserta lain, aku istirahat makan siang, lalu kembali ke rumah sakit, lalu kembali menunggu. Lewat pukul dua siang, di mana aku sudah begitu lelah dan mengantuk, tiba-tiba namaku dipanggil.
Aku dibawa ke suatu ruangan. Ada dua orang ibu-ibu yang duduk. Yang satu kepala perawat ICU, yang satu bekas perawat ICU yang sekarang sepertinya adalah orang sangat penting. Wawancara ini tentang teori-teori yang berkaitan dengan ICU, yang sungguh mati, nyaris semuanya tak bisa kujawab, sebagian karena lupa, sebagian karena memang tidak tahu, yang jelas sebab semua ini adalah pengalamanku di ICU yang sangat minim, yang semenjak RS tempatku bekerja dibuka, baru ada dua pasien yang masuk ICU, itu pun dengan kasus yang biasa-biasa saja.
Di ruangan itu, aku 'dihajar' habis-habisan. Aku memang tidak pernah merasa diriku pintar (kalau beruntung, memang sering), tetapi ini adalah salah satu momen di mana aku benar-benar merasa menjadi orang bodoh. Saat-saat di mana aku menyadari betapa bodohnya sesungguhnya diriku.
Aku mendapat ceramah yang memuaskan tentang betapa pentingnya seorang perawat ICU memiliki analisa yang baik, terlebih aku S1 (S1 keparat!). Tentang betapa banyaknya hal yang harus dikuasai karena itu adalah pekerjaan tiap hari. Tentang bagaimana ketidaktahuan kita akan menjadi dosa karena di sana urusannya adalah nyawa seseorang. Aku hanya menjawab iya, baik, dan siap, untuk semua ceramah itu.
Dan, akhirnya, ada banyak PR yang harus kupelajari. Ya, ada banyak PR. Aku senang. PR tentulah harus dikumpul pada sang guru. Yang berarti, aku akan kembali bertemu dengan mereka berdua nantinya. Aku, sekali lagi, memang tidak pintar, tapi dengan kecerdasanku yang seadanya itu, aku tahu bahwa mungkin aku masih memiliki kesempatan. Kesempatan untuk lolos dan bekerja di sini, di rumah sakit yang untuk melihat puncak gedungnya kepala harus mendongak hingga nyaris jatuh "tajungkang", di Jakarta, tempat di mana banyak mimpi ditambatkan di kota ini, di mana penghuninya seperti kapal yang kelebihan muatan, di mana hal-hal absurd kerap terjadi, di mana aku bisa lebih jauh lagi darimu, agar aku barangkali bisa melupakanmu, atau justru mengingatmu dengan lebih dalam lagi. Ah, benar, memangnya kaupikir semua ini tentang apa? Untuk apa aku lari sejauh ini kalau bukan tentangmu? Kaupikir melupakan itu mudah?
***
Aku balik ke penginapan dengan Go-Jek. Di jalan aku mengecek penerbangan hari ini ke Banjarmasin. Hanya tersisa yang mahal. Rencana pulang kutunda besok. Sampai di penginapan aku berdebat dengan pengelola, bukan cewek yang manis malam tadi, ia memintaku bayar denda karena melanggar peraturan tentang batas check out, kubilang aku sama sekali tidak mendapat penjelasan soal peraturan dan kalau mbak mau bilang dendanya seratus atau dua ratus ribu pun aku tidak akan tahu, ia bilang aku bisa menghubungi penginapan jika memang terlambat, aku bilang bahwa aku sama sekali tidak diberitahu nomor telepon penginapan, ia bilang aku harusnya meninggalkan kunci di resepsionis saat keluar, aku bilang resepsionis tadi hanya tersenyum saat aku keluar dan tidak meminta meninggalkan kunci.
Tapi aku malas meneruskan perdebatan. Aku sangat lelah. Jakarta cepat sekali membuatmu lelah. (Oleh jalanannya yang sesak, oleh orang-orangnya yang apatis, oleh mimpi-mimpi aneh yang dihembuskannya lewat udara yang penuh debu, oleh terik mataharinya, oleh gedung-gedungnya yang tinggi, oleh paginya yang berlangsung lebih cepat yang membuat tidur nyamanmu lekas usai.)
Aku membayar denda, dan membayar biaya menginap untuk satu malam lagi. Dan mencoba tersenyum.
Aku membawa barang-barangku yang sudah dikeluarkan si pengelola, ke kamar asalku di lantai 4, yang entah alasan apa dinamai lantai 3, dengan melewatkan lantai 2.
Aku istirahat sejenak, mandi, shalat, lalu keluar untuk cari makan. Sore bergerak pelan menuju senja, membawa orang-orang yang terburu-buru dan penuh sesak di jalan. Di Jakarta yang semua orang ingin cepat ini, waktu berjalan sangat lambat. Aku menikmati nasi uduk sambil dalam hati melantunkan lagu Senja di Jakarta karya Banda Neira yang dulu sering kuputar di Kedai Kebun.
Bersepeda di kala senja
Mengejar mentari tenggelam
Hangat jingga temani rasa
Nikmati Jakarta 
Bersepeda keliling kota
Kanan kiri, ramai jalanan
Arungi lautan kendaraan
Oh, senja di Jakarta 
Parapa, parapa, parapa, parara
Nikmati jalan di jakarta
Parapa, parapa, parapa, parara
Maafkan jalan Jakarta 
Bersepeda sepulang kerja
Kenyang hirup asap kopaja
Klakson kanan kiri berbalasan
Oh, senja di Jakarta 
Parapa, parapa, parapa, parara
Nikmati jalan di jakarta
Parapa, parapa, parapa, parara
Maafkan jalan Jakarta
Bersepeda, di kala senja
Nikmati Jakarta
[]


Rabu, 12-4-17, Mangga Besar, Jakarta Barat

Komentar

  1. Balasan
    1. wah bang teguh pmi ya. mksih sdh mmpir bang

      Hapus
  2. UUlun jua kak ai. Bakalan satu pulau lagi kita :-D

    BalasHapus
  3. Perjuangan yang seru, melelahkan, penuh tantangan dan kejutan.. 😊

    BalasHapus

Posting Komentar